Sunday, February 19, 2012

Pemberian Gelar Baru oleh Kolonial - Kajian gelar "Dalem"

Setelah takluknya Kerajaan Klungkung pada perang puputan 1908 menandakan kemenangan kolonioal Belanda dan pemerintahan seluruh Bali beralih ke tangan Belanda terhitung sejak gugurnya Ida I Dewa Agung Jambe beserta seluruh ksatria pelindung Kreaton Smarajaya. 
pada tanggal 1 Juli 1929, berdasarkan Staatsblaad No.226 Gouvenour Generaal van Nederland Indie, pemerintah Hindia Belanda membagi wilayah pulau Bali menjadi delapan daerah pemerintahan Landschaap sesuai dengan situasi dan kondisi sistem adat yang berlaku saat itu.
para pejabat yang memegang masing-masing wilayah ini disebut Best Uurder, setingkat Bupati sekarang.
Pada tahun 1938 berdasarkan "Zelfbestuur Regeling tahun 1938" , merupakan usaha penyeragaman pemerintahan seluruh jajahan Hindia Belanda di Indonesia, disamping untuk mengambil hati para penguasa pribumi agar tetap setia kepada Belanda maka wilayah yang ada di Bali ditingkatkan menjadi Leadschaap yang sifatnya lebih mandiri dan otonom. sedangkan kepala pemerintahnya disebut Regent.
Untuk menyenangkan sehingga dengan mudah untuk dapat menguasai dan mengendalikan kapada pemerintah ini, maka berdasarkan keputusan Gubernur General Hindia Belanda No.21, tertanggal 7 Juli 1938 resmilah di Bali berdiri lagi Kerajaan baru bentukan Kolonial Belanda dengan kepala pemerintahan disebut Raja.
Untuk pertama kalinya yang diangkat oleh Belanda di kedelapan kerajaan tersebut menjadi raja sesuai dengan peraturan Belanda itu adalah:
1. I Dewa Gde Oka Geg diangkat menjadi Raja Klungkung dengan gelar "Ida I Dewa Agung". Dengan demikian beliau sejak saat itu disebut Ida I Dewa Agung Gde Oka Geg.
2. I Gusti Ngurah Alit diangkat menjadi Raja Badung dengan gelar "Tjokorda". Beliau sekarang dipanggil Tjokorda Ngurah Alit.
3. I Gusti Ngurah Gde diangkat menjadi Raja Tabanan dengan gelar "Tjokorda", maka beliau setelah itu dipanggil Tjokorda Ngurah Gde.
4. I Dewa Ngurah Ketut diangkat menjadi Raja Bangli dengan gelar "Anak Agung", jadi beliau sejak saat itu dipanggil Anak Agung Ngurah Ketut.
5. I Dewa Ngurag Agung diangkat menjadi raja Gianyar dengan gelar "Anak Agung", jadi semenjak itu beliau dipanggil dengan Anak Agung Ngurah Agung.
6. I Gusti Bagus Djelantik diangkat menjadi raja Karangasem dengan gelar "Anak Agung" dan sekarang beliau dipanggil Anak Agung Bagus Djelantik.
7. I Gusti Bagus Negara diangakat menjadi raja Jembrana dengan gelar "Anak Agung", sehingga beliau dipanggil Anak Agung Bagus Negara.
8. I Gusti Putu Djelantik diangkat menjadi Raja Buleleng dengan gelar "Anak Agung" sehingga sejak saat itu beliau dipanggil Anak Agung Putu Djelantik.
Regent / Raja Bali bentukan Belanda tahun 1938


Jadi Tjokorda/Cokorda, Anak Agung sekarang bukanlah nama keturunan, tetapi merupakan sebuah gelar bagi mereka yang diangkat menjadi wakil Belanda oleh penjajah Belanda. gelar "Ida I Dewa Agung" diberikan kepada Raja Klungkung karena mengingat Klungkung merupakan pusat dari Kerajaan zaman dahulu. begitu pula dengan gelar Tjokorda dan Anak Agung diberikan kepada kerajaan lain karena dianggap kerajaan tersebut merupakan bawahan Klungkung.
fenomena yang terjadi sekarang ialah maraknya penggantian nama maupun gelar di Bali, padahal jika dikaji lebih jauh nama raja ataupun leluhur terdahulu sangatlah berwibawa dan melegenda seperti nama "Gusti" dan "Ida I Dewa Agung", sebagai contoh yaitu: Raja Denpasar yang berperang Puputan dengan Heroismenya bernama "I Gusti Ngurah Made Agung". Raja Gianyar dahulu bergelar "Ida I Dewa Manggis Kuning/ Ida I Dewa Manggis Jorog". Gelar Raja Klungkung yang perang Puputan pada 1908 bernama "Ida I Dewa Agung Jambe". begitu wibawanya nama-nama beliau.
seperti halnya pemakaian gelar "Dalem" lagi kepada Abhiseka Ratu di Puri Klungkung. hal yang perlu dikaji lebih dan ulang karena merujuk pada gelar "Ida Dalem" yang merupakan gelar pingit dari raja-raja dinasti Samprangan hingga Gelgel, namun pada saat perpindahan kerajaan ke Klungkung dan berdirinya Kraton Smarajaya gelar "Dalem" tidak dipakai lagi oleh Raja dan memilih menggunakan gelar "Ida I Dewa Agung". entah apa yang menjadi pertimbangan digunakan kembali gelar pingit "Dalem" oleh Puri Klungkung. sudah 
jelas pada penobatan Ida I Dewa Oka Geg menjadi Regent di Klungkung memilih gelar "Ida I Dewa Agung".
Jika dibaca ulang babad Dalem, perlukisan raja Bali periode Samprangan hingga Gelgel merupakan raja yang berwibawa terlebih pada raja Dalem Waturenggong. gelar "Dalem" merupakan gelar bagi seorang Raja yang mendalami dharma agama dan dharma ksatria. Dharma Agama yaitu beliau yang mengayomi masyarakat dan berbakti layaknya seorang pandita maka beliau juga disebut seorang "Dalam" mendalami dan mengetahui agama secara mendalam, tata pemerintahan sebagai dharma negara dan mampu mensejahterakan rakyat.

Puputan Klungkung 1908 dan BAB yang hilang.

Mrajan Agung Sukahet - Warisan Raja Klungkung

Mrajan Agung Sukahet merupakan tonggak sejarah dari keturuan raja-raja Klungkung dan hubungan erat dengan saudaranya yaitu para Ksatria Sukahet sebagai Manca Agung Raja Klungkung.

Meru Tumpang Lima linggih Ida Bhetara Dalem Segening, Ida Bhetara Dalem Dimadya di Mrajan Agung Sukahet - Klungkung

Sejarah Mrajan Agung Sukahet.
Ida I Dewa Karang telah diangkat menjadi manca, maka ada empat orang di Puri Denbencingah yang menjadi Manca, hal pertama yang dilakukan oleh beliau adalah membangun Mrajan Agung Sukahet yang dahulunya hanya berupa pemerajan rumah (mrajan kemulan) yang dibangun oleh Ida I Dewa Paduhungan, Ida I Dewa Negara, dan Ide I Dewa Kereng. sekitar awal pembangunan Kraton Smarajaya dan Puri Denbencingah (sekitar tahun 1686-1700M...sumber: Buku Dharma Agama lan Dharma Negara oleh Ida I Dewa Gede Cakranegara). pada tahun 1963 tercatat direnovasi I dan pada tahun 2000 direnovasi II.
Melihat kondisi Mrajan yang sangat rapuh maka diajukanlah permohonan kepada adiknya yang menjadi Istri Prami raja Klungkung dan disetujui oleh raja, maka perintah beliau adalah memperbaiki Mrajan Agung Sukahet dan peningkatan status mrajan menjadi Mrajan Pedharman bagi keluarga Raja Klungkung, dengan menstanakan Raja Ida I Dewa Agung Dimadya beserta Ibu Raja Ida I Dewa Agung Sakti yaitu Ida I Dewa Ayu Kerti. selain itu di Mrajan Agung Sukahet distanakannya Ida Bhetara Dalem Segening dengan Meru tumpang Lima.
Dengan kenyataan ini maka pada saat itu memang tidak ada Pemerajan Agung bagi seluruh sentana Dalem Segening untuk mengayat Bhatara-Bhetari Kawitan, sehingga Mrajan Agung Sukahet yang dibagun oleh keturunan Ida I Dewa Sumretta dan Raja Ida I Dewa Agung Jambe raja Klungkung I.
Belakangan baru dibuatkan suatu pengayengan kepada Leluhur di Pedharman Besakih yang disebut Segening di sebelah Taman Sari dan Penataran Agung di Banjar Sengguhan yang baru disebut Pura Segening (bukan tempat berstananya Dalem Segening, karena sebagai betara Kawitan beliau juga dapat berada/berstana diseluruh mrajan kawitan Ksatria Dalem). fungsi Pura ini tiada lain digunakan oleh Raja dan Keluarganya untuk Ngyeng/Ngayat Bethara/Bhetari di Pedharman Besakih karena saat itu Raja Klungkung bermusuhan dengan Raja Karangasem, sehingga tidak mungkin keluarga Raja Klungkung untuk ke Besakih yang masih menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Karangasem.
dengan dibangunnya Mrajan Agung Sukahet sebagai Pedharman maka Raja Klungkung mengeluarkan Bhisama "kepada Kulewarga Tjokorda Ketut Agung bersama seluruh keturunannya medadia dan tidak boleh pecah" (namun sejak tahun 60'an tidak lagi medadia tanpa alasan yang jelas).

Pemedal Agung Mrajan Agung Sukahet Klungkung

Mrajan Agung Sukahet menurut Prasasti/Wesana Puri Kelodan.
Pada saat ada kekuasaan Ida I Dewa Agung Dimadya II sebagai Raja Smarajaya yang ke III, semua putra Raja kecuali Ida I Dewa Agung Sangging adalah putra tertua. Pada suatu masa Permaisuri Raja Ida I Dewa Ayu Kerti/Desak Ayu Kerti (keturunan Ksatria Sukahet putri Ida I Dewa Karang cucu Ida I Dewa Peduhungan) yang merupakan Ibu dari Ida I Dewa Agung Sakti.Permaisuri berkeinginan membuat dan membangun tempat pemujaan (Mrajan), karena itulah kemudia Raja memanggil putra tertuanya yaitu Ida I Dewa Agung Sangging yang menjabat sebagai Manca di Puri Jero Kuta untuk diajak berunding tentang pembangunan Merajan. dari hasil musyawarah tersebut ada permitaan Ida I Dewa Agung Sangging dalam membangun Merajan harus ada pelinggih pemujaan untuk memuja Ida Bhetara Dalem Sesuhunan Sri Aji Anom Segening, dalam bentuk sebuah meru tumpang lima, hal inipun disetujui oleh Raja.
Akhirnya Ida I Dewa Agung Sangging memimpin serta memberikan segala kebutuhan sarana dan prasaran untuk membangun Merajan Agung Sukahet serta nantinya disungsung oleh seluruh keturunan Mulya (Satherehing) Ida I Dewa Sumretta (Ksatria Sukahet) sebagai leluhur Permaisuri Raja, kemudian Ida I Dewa Agung Sangging berpesan "ingatlah engkau semua, jika semua saudaraku disini berencana nantinya membuat "pratima" kamu harus sekaligus membuat sebuah tempat pemujaan dalam bentuk meru tumpang lima sebagai tempat berstananya Ida Bhetara Dalem Sri Aji Anom Segening".
pesan tersebut disanggupi oleh Ksatria Sukahet, namun sayang sebelum Merajan selesai Raja dan Prameswari telah berpulang ke Acintya, maka yang menggantikan beliau adalah Ida I Dewa Agung Sakti, kemudia pembangunan Merajan dilanjutkan kembali hingga selesai.
begitulah akhirnya pada hari Radite Umanis Kulawu (manis Tumpek Wayang) pertemuan dilaksanakan di Puri Kelodan, pada saat itu pula Baginda Raja Ida I Dewa Agung Sakti bersabda "baiklah Kanda, hamba memohon agar menyelesaikan semua kepentingan menyangkut Merajan tersebut, sekaligus mengenai pembuatan upakara penyucian untuk Ngelinggihang/Ngenteg Ida Bhetara Dalem Segening dan Ida Bhetara Dalem Dimadya termasuk arwah Ibu Hambda", setelah bersabda maka beliau juga memberikan dana bukti (Laba Pura/Mrajan) yang diberikan langsung kepada Ida I Dewa Sakti Kerung sebagai wakil Kulewarga.

Berdirinya Keraton Semarajaya dan Puri Agung Denbencingah - Klungkung

Setelah lama Ida I Dewa Jambe bermukim di Sidemen, seorang yang masih setia kepada dinasti Dalem yaitu Kyayi Anglurah Sidemen mengadakan pasebayan yang hendak menyingkirkan Kyayi Agnlurah Maruti dan mengembalikan dinasti Dalem memerintah kembali. 
yang memimpin sidang itu adalah Ida I Dewa Jambe putra keempat Ida Dalem Dimade, yang beribu dari Badung adik Kyayi Jambe Pule. sebagai penasehat Ida Pedanda Wayahan Buruan, Ikut serta dalam perundingan itu ialah Kyayi Jambe Pule dan pemuka pemerintahan Ler Bukit yaitu Kyayi Tamblang, Kyayi Tabanan, dan Kyayi Kaba-kaba. setelah selesai perundingan, Kyayi Anglurah Sidemen dengan bekas punggawa Gelgel itu segera memberikan saran kepada manca dan anglurah di Den Bukit, dan Anglurah Badung Kyayi Nambangan Jambe Pule agar bersama-sama membantu menumpas Kyayi Agung Maruti di Gelgel.
Pasukan Koalisi yang terdiri dari, Denbukit menyerang dari Barat berkemah di Penasan dengan senopati I Gusti Tamblang, Balayuda Badung langsung dipimpin oleh Kyayi Jambe menyerang dari arah selatan (Klotok) seebagai supit tengen yang bertugas menggempur sayap kanan pertahanan Maruti, sedangkan balayuda Sidemen dipimpin oleh Anglurah Sidemen menyerang dari arah timur laut sebagai supit kiri (sekitar kamasan dan jumpai), sedangkan pasukan Pekandel yang dipimpin tiga bersaudara Ksatria Sukahet yaitu Ida I Dewa Paduhungan, Ida I Dewa Negara, Ida I Dewa Kereng dengan membawahi balayuda yang masih setia dengan Dinasti Dalem merupakan pasukan pucuk pimpinan pelindung calon Raja penerus Dinasti Dalem.
Berkecamuklah perang penegakan Dinasti di Gelgel, semua pasukan saling beradu kekuatan. pada akhirnya Gelgel mampu dikuasai oleh pasukan gabungan Kyayi Anglurah Panji Sakti(Buleleng), Anglurah Sidemen (Karangasem), Kyayi Jambe Pule (Badung), Ida I Dewa Paduhungan, Ida I Dewa Negara, Ida I Dewa Kereng (Pelindung Raja), dan Ida I Dewa Jambe (Pimpinan). Kyayi Agung Maruti kemudian melarikan diri bersama pengiring setianya menuju daerah Jimbaran, dan ankhirya ke Mengwi.
Setelah Gelgel mampu dikuasai kembali oleh Ida I Dewa Jambe, dari perundingan dengan para koalisi maka pusat kerajaan pun dipindahkan ke Klungkung. disini Ida I Dewa Jambe mendirikan Kraton baru dengan nama Kraton Smarajaya, maka berakhirlah periode Gelgel dengan dibangunnya Kraton Smarajaya sebagai penanda tegaknya kembali Dinasti Dalem. Ida I Dewa Jambe bergelar Ida I Dewa Agung Jambe sebagai Raja Klungkung I dan diakui kembali sebagai Sesuhunan Bali - Lombok namun daerah kekuasaan hanya sebatas Klungkung.

Pemedal Agung Raja-raja periode Klungkung Ida I Dewa Agung Jambe

Atas jasa tiga bersaudara Ida I Dewa Paduhungan, Ida I Dewa Negara, Ide I Dewa Kereng yang merupakan saudara dari Ida I Dewa Agung Jambe, raja Klungkung I maka beliau bertiga diangkat menjadi Manca dan dibuatkan Puri di utara bencingah Kraton Semarajaya, kemudian diberikan nama Puri Agung Denbancingah (Kantor Bupati Klungkung sekarang dan luasnya hingga ke barat tepatnya di Puri Agung Klungkung sekarang). karena adanya titah Raja Ida I Dewa Agung Jambe "Wahai Keturunanku, dimanapun Raja Berada, Maka disanalah para Ksatria Sukahet berada, tidak boleh dipisahkan".

Pamedal Agung, Mrajan Agung Sukahet - Klungkung

Saturday, July 16, 2011

Pingit dan Angkernya Ksatria Sukahet (Panugrahan Wangkes Hyang Bhatari Dhurga)

Om Awighnam astu namo sidhham.
Om Sidhirastu tad astu swaha
Sujud sembahku kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan kepada Leluhur
Semoga tidak terkena aral rintangan

Visualisasi Dhurga - Ida Ratu Ayu di Desa Taman Pohmanis



Ketika braya (panjak pengiring) mempunyai bayi/anak, mereka biasanya meminta agar salah satu Ksatria Sukahet (trah Ida I  Dewa Sumretta) memberikan air ludah  untuk bayi atau anak mereka dioleskan pada jidat dan pusar si bayi (hal ini masih kental berlaku di daerah Pohmanis sampai Kesiman yang biasanya disebut "nunas bebes") jika hal itu tidak dilakukan ketika Ksatria Sukahet bertemu (walaupun hanya berpapasan) dengan sang bayi, dipastikan sang bayi akan menangis sejadi-jadinya, biasanya jika orang yang mengetahui hal tersebut maka menyarankan agar nagkil ke Puri para Ksatria Sukahet untuk "nunas bebes" (minta air ludah/wangkes) dari salah satu keturunan Ksatria Sukahet, jika tidak sang bayi akan terus menangis walaupun sudah ditenangkan dengan cara apapun. Hal itu mengakibatkan banyak para Ksatria Sukahet dikatakan memiliki aji ugig (ilmu hitam) padahal itu tidak benar, itu dikarenakan panugrahan Hyang Bhatari Dhurga yang diberikan kepada Ida I Dewa Sumretta saat beliau nunas panugrahan di Setra Dalem Sukahet, karangasem, begini ceritanya.


Ketika tiga tahun sudah pernikahan Ida I Dewa Sumretta dengan Ni Gusti Ayu Sukahet dijalani dengan suka dan duka, namun nasibnya sangat tidak beruntung dan sangat menyedihkan hati Ida I Dewa Sumretta. Megingat setiap kelahiran putra beliau, selalu meninggal, hal itu terjadi berkali-kali hingga sampai yang ke tiga kalinya, dan diputuskanlah untuk menghadap kepada mertuanya yaitu  Anglurah Sukahet dan meminta saran karena Ki Gusti Sukahet merupakan orang yang pintar dalam hal pengobatan (Usada).

Disarankanlah Ida I Dewa Sumretta dan Ni Gusti Ayu Sukahet nangkil ke Setra Dalem Sukahet untuk meminta panugrahan Hyang Bhatari di ulun Setra (Pemuhunan/tempat membakar mayat) dengan segala upakara yadnya dan tentu saja pada hari/dina yang baik (seperti yang disarakan oleh Anglurah Sukahet) tepat pada tengah malam dengan tulang tengkorak sebagai sarana pembuat minyak, dan nantinya minyak itu dijadikan obat, semua hal itu dilakukan untuk memuja Hyang Bhatari Dhurga.

Setelah semua sudah siap (sarana upakara, dina ayu, dan tekad yang bulat) maka berangkatlah Ida I Dewa Sumretta dengan Ni Gusti Ayu Sukahet ke Setra Dalem Sukahet, ketika sudah tiba di ulun setra bergegaslah beliau berdua mempersiapkan segala sesuatunya dan mengerjakan apa yang disarankan oleh Anglurah Sukahet, segera membuat minyak dari tengkorak manusia dari awal pertama pengerjaan membuat santan dari kelapa dan tengkorak manusia itu dibuatkanlah api yang besar untuk membuat minyak, maka siaplah semuanya. Ida I Dewa Sumretta dan I Gusti Ayu Sukahet duduk dengan memusatkan pikiran lalu beryoga  Angutiti Stiti Sang Hyang Candra Bhaerawi, sampai doa beliau berdua dipusatkan, tidak beberapa lama kemudian muncul dan berwujudlah Hyang Bhaerawi, beliau berdua sangat bergetar dan tidak berani mergerak sedikitpun dan segera menyembah Hyang Bhaerawi, setelah selesai menyembah, terdengarlah sabdha Ida Bhatari dan mengabulkan permintaan dari Ida I Dewa Sumretta beserta istri beliau, dianugrahkan Wangkes Hyang Bhatari dan memberikan wejangan : "Panugrahan ini sangatlah mahotama dan sangatlah berbahaya bagi keturunanmu kelak, apakah bahayanya? Jika kalian bertemu dengan bayi yang belum bisa duduk dan dari pusarnya tiba-tiba mengeluarkan darah, maka segeralah beri pertolongan dengan Wangkes Ku ini, beri dia ludah merah dari daun sirih, maka bayi itu akan sembuh, jika tidak ditolong maka bayi itu akan sakit mencret lalu meninggal, kedua utamanya, berikanlah anak-anakmu dengan boreh Wangkes Ku maka ia akan panjang umur dan digjaya, kemudian bila ada nanti keturunanmu dijadikan Madu maka ia akan berkuasa", demikian sabdha dari Hyang Bhatari kepada Ida I Dewa Sumretta, lalu  Beliau lenyap, mur maring Acintya.

Hari bahagia yang ditunggu-tunggu telah tiba, putra-putra yang nantinya akan menegakkan dan menjadi benteng dari Dinasti Dalem Kresna Kepakisan telah lahir berturut-turut, yaitu: Ida I Dewa Paduhungan yang lahir sekitar tahun (1658 M), kedua Ida I Dewa Negara (1661 M), dan ketiga Ida I Dewa Kereng (1664 M).

Dari semenjak itulah panugrahan itu terus berlanjut hingga warih Ksatria Sukahet sekarang, sehingga pingit dan angker nya panugrahan itu harus dijaga dan dilaksanakan oleh keturunan Ida I Dewa Sumretta dan Ni Gusti Ayu Sukahet agar dapat menegakan Dinasti Dalem, dan berdharma agama dan dharma negara.

Wednesday, July 13, 2011

Ida I Dewa Sumretta (Lahirnya Ksatria Sukahet)

Om Awighnam astu namo sidhham.
Om Sidhirastu tad astu swaha
Sujud sembahku kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan kepada Leluhur
Semoga tidak terkena aral rintangan

Lahirya Ksatria Dalem/Sukahet tidak terlepas dari sang Ayahanda yaitu Ida I Dewa Anom Sagening (Dalem Sagening) yang mempunyai banyak putra dari politik perkawinan beliau agar kedudukan sebagai raja Bali menjadi kuat, hal itu dibuktikan dengan diakui pula Ida Dalem Sagening sebagai raja sesuhunan Bali dan Lombok. Keturunan dari Ida Dalem Segening hanyalah 14 orang sesuai babad Dalem, namun dalam versi babad lain beliau memiliki warih, karena sesuatu sebab mereka tidak diajak bergabung di Kraton Gelgel.
Keturunan beliau adalah: - I Dewa Rangda Gowang
                                      - I Dewa Dimade (Putra Mahkota/Dalem Dimade)
                                      - I Dewa Sumretta (Ksatria Sukahet)
                                      - I Dewa Bedahulu
                                      - I Dewa Anom Sidemen
                                      - I Dewa Karangasem
                                      - I Dewa Pemeregan
                                      - I Dewa Cau
                                      - I Dewa Belayu
                                      - I Dewa Lebah
                                      - I Dewa Sidan
                                      - I Dewa Kabetan
                                      - I Dewa Pesawahan
                                      - I Dewa Kulit (Dewa Kulit Babi)
                                      - Ki Gusti Mambal Sakti (tidak ikut dalam Kraton Gelgel)
                                      - Ki Gusti Panji Sakti (Pendiri Kerajaan Buleleng)

Yang menjadi putra mahkota ialah I Dewa Dimade yang nantinya bergelar Ida Dalem Dimade yang meneruskan pemerintahan Kerajaan Bali dengan pusat di Kraton Gelgel. Ketika pemerintahan Ida Dalem Dimade terjadi pemberotakan yang terkenal dengan nama "Pemberontakan Kriyan Agung Maruti (Pralaya Gelgel, 1651 M). yang mengakibatkan carut marutnya di Kraton Gelgel dan semua isi istana yang masih setia dengan Ida Dalem mengungsi. Hal itu mengakibatkan para Anglurah yang macek masing-masing wilayah dengan para pengiringnya tidak setuju dengan Kriyan Agung Maruti sebagai Raja Gelgel sehingga memilih untuk memerdekakan diri dan menjadi raja di wilayah masing-masing (lahirnya kerajaan kecil di Bali seperti Kerajaan Buleleng, Badung, Karangasem, Bangli, Gianyar, Tabanan, Negara) sedangkan Ida Dalem Dimade mengungsi dan mendirikan Kraton di Guliang (tetap bertahta) dengan ditemani adik beliau Ida I Dewa Sumretta dan Ngakan Denbancingah yang selalu setia merawat Ida I Dewa Jambe yang masih kecil waktu itu. Dari sanalah kakak adik ini merencanakan merebut tahta di Gelgel dan menegakkan dinasti Dalem kembali di Tanah Bali. Setelah Ida Dalem Dimade wafat di Guliang Karangsem, banyak raja-raja vasal yang masih setia dengan Ida Dalem, seperti Raja Denbukit Ida I Gusti Panji Sakti, yang masih warih/garis keturunan dari Ida Dalem, raja Badung yaitu Kyai Jambe Pule yang masih mertua Ida Dalem atau kakek dari Ida I Dewa Jambe, kemudian Anglurah Sidemen yang masih sepupu Ida Dalem dari pihak Ibu, serta Ida I Dewa Sumretta sebagai adik Ida Dalem, telah sepakat untuk mengangkat raja baru pengganti Ida Dalem Dimade, yang terpilih untuk menggantikan ayahanda ialah Ida I Dewa Jambe, sedangkan Ida I Dewa Pemayun memilih untuk berkedudukan di Tampak Siring disertai dengan pembagian pusaka kerajaan dan pengiring setia.

Setelah lama menetap untuk mempersiapkan serangan balasan, diceritakanlah beberapa tahun di Ulah Sidemen, Ida I Dewa Jambe terus mendapatkan pelajaran tentang taktik dan strategi perang, oleh Ki Anglurah Sidemen, sedangkan Ida I Dewa Sumretta yang telah lama meetap di Sidemen, sering bermain untuk mengisi waktu dan menghibur diri dari kegiatan sehari-hari didalam menemani keponakannya. tempat yang sering dikunjingi beliau adalah Desa disebelah selatan Ulah/Sidemen yaitu  Desa Sukahet, yang menjadi penguasa adalah Sira Anglurah Sukahet yang bernama I Gusti Sukahet, dan beliau memiliki seorang putri yang pemberani yaitu I Gusti Ayu Sukahet. Sehingga Ida I Dewa Sumretta jatuh hati dan sangat cinta kepada putri Anglurah Sukahet tersebut. pada waktu itu usia dari Ida I Dewa Sumretta kira-kira 28 tahun (menurut Buku Dharma Agama dan Negara karangan Ida I Dewa Gede Cakranegara). Ida I Dewa Sumretta dan I Gusti Ayu Sukahet pun saling mencintai sehingga hubungan mereka direstui oleh ayahanda Anglurah Sukahet, upacara pernikahan dilangsungkan di Jro Agung Sukahet. Setelah dua bulan pernikahannya. beliau berdua berpamitan untuk pulang ke Sidemen guna melaksanakan kewajiban sebagai Ksatria demi mengembalikan kewibawaan Dinasti leluhur.

Ksatria Dalem Segening, dari Trah Ida I Dewa Sumretta yang kawin dengan I Gusti Ayu Sukahet, untuk mengenang Sang Ibu (I Gusti Ayu Sukahet) maka ditambahkanlah "Sukahet" bagi keturunan Ksatria Dalem trah Ida I Dewa Sumretta yang sampai sekarang bernama Ksatria Dalem/Sukahet.

Ida I Dewa Ngurah Swastha - Penglingsir Agung Puri Agung Denbancingah Klungkung - Ksatria Sukahet

Thursday, June 9, 2011

Pusaka Kerajaan di Puri Agung Pohmanis (Tonggak Sejarah dan Benteng Kerajaan)

Om Awighnam astu namo sidhham.
Om Sidhirastu tad astu swaha
Sujud sembahku kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan kepada Leluhur
Semoga tidak terkena aral rintangan

Mengenai keberadaan dan asal usul Keris Pajenengan dan Keris Pusaka di Pemrajan Agung Pohmanis sungguh sangat "gelap" dan pelik, karena tidak ada prasasti dan sumber-sumberyang dapat dirunut untuk mengungkapkan asal usul Pusaka tersebut.

Mencoba mengungkapkan keberadaan Pusaka tersebut dengan asumsi, logika tidak jauh dari perjalanan sejarah I Dewa Kalesan/I Dewa Karang/I Dewa Gde Sukahet, baik pada waktu beliau dibawa oleh I Pengalu Kuda di Den Bukit, dibesarkan di Puri Bun maupun dinobatkan jumeneng di Puri Taak.
Nampaknya tidak lazim seorang putra pembesar kerajaan yang masih kecil, masih kanak-kanak, dibekali sebuah keris pada waktu beliau diculik oleh Ngakan Kaleran saat di Klungkung, penulis lebih cendrung memandang "Penculikan" tersebut tidak sebagai pencurian, tetapi lebih sebagai penyelamatan terhadap nyawa I Dewa Karang. Sebab Kalau kita perhatikan situasi Klungkung dan Gelgel pada waktu itu sedang bergolak. Istana Gelgel dapat dikuasai pasukan sekutu dibawah pimpinan Ida I Dewa Jambe putra dari Dalem Dimade saat merebut kembali kerajaan yang sudah dirampas oleh I Gusti Agung Maruti (Pemberontakan Maruti).

Ida I Dewa Jambe tidak mau lagi di istana Gelgel dan beliau memindahkan pusat pemerintahan dari Gelgel ke Klungkung (Semarapura) dan dinobatkan sebagai Raja Klungkung I (Th. 1710 M.) dengan abhiseka Ida I Dewa Agung Jambe. Perlu diketahui pula, semenjak itu Raja Klungkung tidak lagi memakai gelar Dalem.

Kalau kita perhatikan usia putra-putra kerajaan pada waktu itu. I Dewa Agung Jambe adalah seusia dengan I Dewa Paduwungan, putra dari Ida I Dewa Sumretta. adalah masuk akal, I Dewa Karang putra dari I Dewa Paduwugan waktu itu masih kecil.

Yang lebih mungkin dalam menyingkap asal usul Keris Pajenenga dan Pusaka tersebut adalah setelah Ida I Dewa Gde Sukahet Jumenek di Puri Taak (Raja Taak I). sangat mungkin beliau mohon diberikan sebuah Keris kepada Ida I Dewa Agung di Klungkung. Ini menjadi penting, mengingat pada masa itu ada suatu tradisi, budaya kerajaan bahwa keris dapat memberi tuah, sugesti lebih percaya diri kepada pemiliknya, memberi rasa aman dari gangguan serangan musuh,dll.

Pada tahun 1999 Keris Pajenengan dan Pusaka kerajaan tersebut menunjukan kebesarannya. Puri  Agung Batubulan (Warih Dalem Sukawati) akan melaksanakan Karya Agung namun tidak pernah berhasil karena Penglingsir di Puri Agung Batubulan waktu itu melupakan akan keberadaan Ksatria Dalem Sukahet di Puri  Agung Pohmanis yang pertama kali menguasai Taak. Pada saat para pengayah ngayah di Pemrajan Agung di Puri, terjadi hujan lebat tak kunjung reda hingga Mrajan Puri Agung Batubulan kebanjiran sampai selutut orang dewasa, berbagai orang pintar ditugaskan untuk meredakan hujan tersebut namun hasilnya nihil, samapai pada akhirnya ada seorang orang pintar karena pasrah dan hasilnya nihil terus melapor kepada Tjokorda Batubulan bahwa ada sekelompok mahkluk halus bertubuh hitam-hitam yang berjumlah ribuan mengganggu proses Karya Agung tersebut dan datangnya dari arah Barat (menurut masyarakat Pohmanis Keris Pajenengan dan Pusaka di Mrajan Agung Pohmanis memiliki rencang/pengikut balayudha wong samar/gamang hingga ribuan rencang/pengiring). mengingat kesalahan fatal dari Puri Agung Batubulan tidak mengingat akan keberadaan Ksatria Dalem Sukahet beserta Keris Pajenengan dan Pusaka Kerajaan di Mrajan Agung Pohmanis yang dahulunya pernah berkuasa di Taak maka terancam gagalah Karya yang akan diselenggarakan. segera Tjokorda Batubulan matur ke Puri Agung Pohmanis untuk meminjam dan ngelinggihkan Keris Pajenengan dan Pusaka Kerajaan tersebut (mendak) untuk dibawa/diiringi ke Mrajan Agung Batubulan serta para Ksatria Dalem/Sukahet ngiringang Keris Pajenengan dan Pusaka  Kerajaan  tersebut, atas seijin penglingsir Puri Agung Pohmanis Dr. Ida I Dewa Made Tjandranegara. setelah itu keadaan di Mrajan Agung Batubulan berangsur-angsur mereda dan para wargi pengayah bisa menjalankan tugas masing-masing dan Karya Agung berjalan lancar. Itu merupakan bukti betapa besar dan pingitnya Keris Pajenengan dan Pusaka Kerajaan di Mrajan Agung Pohmanis yang merupakan tonggak Sejarah dan Benteng Kerajaan.


Pusaka Kerajaan, Ratu Pajenengan (kanan) dan Ratu Penampa (kiri) saat Tumpek Landep di Merajan Agung Puri Pohmanis